Sorry Telling: Jurus Jitu Para Trainer

Tahukah Anda perbedaan seorang guru dengan trainer? Guru mempunyai tugas menyampaikan ilmu atau mentransfer pengetahuan kepada para peserta didiknya. Sedangkan trainer mempunyai tanggung jawab untuk menciptakan perubahan pada kehidupan peserta trainingnya. Trainer sejati tidak sekedar menyampaikan apa yang harus diketahui dan apa yang harus dilakukan saja. Trainer sejati harus berjuang sekuat tenaga untuk membuat orang lain MAU melakukan perubahan ke arah kehidupan yang lebih baik. Meski Tuhan tak akan mengubah nasib seorang manusia ketika manusia itu tak berusaha mengubah dirinya sendiri. At least, trainer harus menjadi pemantik, trigger, terjadinya perubahan dalam hidup orang lain.

 

Salah satu metode yang bisa digunakan oleh trainer dalam rangka memprakarsai perubahan adalah melalui metode cerita, story telling. Perlu diingat bahwa fakta, figur, data dan semua hal yang rasional tidak akan melekat dalam pikiran seseorang. Berbeda dengan cerita. Cerita dapat menciptakan memori yang melekatkan unsur emosi. Karena itu kemampuan bercerita wajib dimiliki oleh seorang trainer, seorang change agent.

 

Milton H. Erickson, seorang psikiater yang mengkhususkan diri dalam hipnosis dan terapi keluarga dikenal dengan kekuatan ceritanya. Ia menorehkan banyak keberhasilan dalam membantu para kliennya dengan menggunakan metafora, yang juga bentuk dari cerita. Penelitian mengenai keahliannya bercerita ini pula yang akhirnya menjadikan kita bisa memiliki sebuah cabang ilmu yang disebut sebagai: Manual Human Brain, buku petunjuk penggunaan otak manusia, yaitu NLP.

 

Dari penelitian, diketahui bahwa ternyata cerita memiliki banyak manfaat yang juga bisa diaplikasikan dalam kelas pelatihan. Diantaranya dapat meningkatkan keterlibatan peserta. Koq bisa? Para ahli mengatakan ketika seseorang bercerita, terjadi sinkronisasi otak antara orang yang menyampaikan cerita dengan yang mendengarkannya. Hal ini menjadikan terciptanya hubungan sekaligus hilangnya batas antara pencerita (trainer) dengan para pendengar cerita kita (audience).

 

Cerita juga bermanfaat untuk menyederhanakan sesuatu yang kompleks. Tentu kita masih ingat bagaimana dulu kita dilatih untuk belajar matematika dengan soal cerita. Dari sekedar menghafal penjumlahan atau pengurangan bilangan misalnya, kita jadi bisa mengimajinasikan dalam otak kita ketika soal tersebut dibuat dalam bentuk soal cerita. Akhirnya kita bisa melihat bahwa ilmu matematika yang tampaknya hanya berbicara soal angka dan hafalan rumus, ternyata adalah sesuatu yang sederhana karena dekat dengan keseharian kita.

 

Tapi aku kan ga pinter basa-basi apalagi cerita? Well, pada dasarnya, setiap orang memiliki bakat terpendam untuk bercerita. Bahkan pada jaman gua sekalipun para nenek moyang kita sudah menunjukkan bakat bercerita. Mereka memahat cerita dengan gambar-gambar pada dinding gua atau batu. Candi borobudur, contohnya. Reliefnya merupakan pahatan cerita penuh makna yang terkenal dengan tiga tingkatannya: Kamadhatu, Rupadhatu dan Arupadhatu. Artinya, manusia terlahir sebagai pencerita. Dan setiap orang pasti punya cerita yang bisa dibagikan untuk menggerakkan orang lain. Termasuk Anda, pasti Anda punya cerita. Tidak melulu cerita tentang kesuksesan Anda. Cerita tentang kegagalan pun juga akan bisa bermanfaat untuk audience Anda. Minimal agar mereka tak melakukan kesalahan yang sama.

 

Namun demikian, ada hal-hal yang perlu diperhatikan agar cerita yang kita sampaikan bisa berdampak dan membuat orang lain tergerak untuk melakukan perubahan. Diantaranya ada 5 (lima) langkah kunci yang telah diajarkan guru saya, Coach Indrawan Nugroho, selama acara outing Trainers Mentoring Program (TEMPA) di Bandung pada akhir bulan Februari lalu. Mau tahu apa saja langkahnya? Silahkan klik disini

No Comments Yet.

Leave a Reply